Minggu, 17 Oktober 2010

si BUTA dan si TULI

pagi yang cerah ini
masih diawali dengan si buta dan si tuli
pasangan kasih itu tak pernah luput dari senyum mereka
dengan semua kekurangan mereka
dengan semua ketidak sediaan mereka
tinggal di gubuk kecil reyot tak terurus
mereka masih tetap tersenyum
hebat .
tak ada yang bisa buat mereka sedih
ucapan syukur tak pernah luput bersama senyumnya
hidupnya
dirinya
mereka serahkan pada dunia
bila hujan mereka tersenyum
bila terik mereka tersenyum
tak ada air mata yang bisa membasahi pipi mereka
saling suap
saling cium kening
bergandeng kesana kemari
bekerja sama menggunakan apa yang masih ada untuk hidup
namun semua senyum itu menghilang

di suatu pagi yang tak cerah
pagi yang mendatangkan renungan muka sedih dan terharu
pagi itu si buta sudah tak berkata apa apa
badannya terbujur kaku disamping si tuli
tak ada kata yang terucap lagi dari si buta
si tuli terdiam tak dapat berkata
semua kata katanya sudah terangkum pedih dalam setiap kerlingan air matanya
di panggil dan di usapnya kepala si buta
berharap si buta bangun dan mencium kening si tuli
lalu bangkit dan melalui hari hari seperti biasanya
sekali memanggil
dua kali memanggil
hingga ketiga kalinya memanggil si tuli berteriak
si tuli menjerit
menangis
si buta sudah tiada
si buta telah terbujur kaku dengan menggenggam foto kenangan si buta dan si tuli





semenjak hari itu
hari demi hari dilalui si tuli dengan jiwa raga yang tak utuh
berharap bertahan si tuli tanpa si buta
namun harapan itu sia sia
si tuli menjemput si buta
si tuli menjemput si buta saat si tuli sedang tidur disamping makam si buta
menjemput ke tempat yang damai
tempat yang membuat mereka berdua akan hidup bahagia selamanya

0 komentar: